IHSG Menguat di Tengah Sentimen Negatif Global, Asing Mulai Kembali Akumulasi
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi perdagangan pertama hari ini menunjukkan kinerja yang cukup menggembirakan. Di tengah berbagai sentimen negatif yang masih membayangi pasar modal Indonesia, IHSG justru mampu menguat sebesar 1,15%. Penguatan ini menjadi sinyal bahwa pasar masih memiliki daya tahan dan optimisme, meskipun tekanan eksternal dan isu tata kelola pasar terus menjadi perhatian pelaku investasi.
![]() |
| IHSG vs MSCI, FTSE, MOODYS |
Salah satu sentimen yang menjadi perhatian investor adalah rencana evaluasi dari FTSE Russell terhadap Bursa Efek Indonesia (BEI). Evaluasi tersebut berkaitan dengan standar transparansi pasar, likuiditas, serta keterbukaan kepemilikan saham yang menjadi indikator penting bagi investor global. Kabar mengenai evaluasi ini sempat menimbulkan kekhawatiran bahwa pasar modal Indonesia berpotensi mengalami penurunan status atau penyesuaian dalam indeks global. Namun demikian, penguatan IHSG pada sesi awal perdagangan menunjukkan bahwa pelaku pasar domestik dan sebagian investor asing masih memiliki kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Penguatan IHSG juga didorong oleh kinerja positif saham-saham konglomerasi besar. Sejumlah emiten yang berada di bawah kelompok usaha besar seperti Salim Group, Bakrie Group, dan Prajogo Pangestu Group terlihat kompak bergerak di zona hijau. Saham-saham yang terafiliasi dengan kelompok usaha tersebut menunjukkan minat beli yang cukup tinggi, mencerminkan optimisme investor terhadap prospek bisnis jangka panjang serta kekuatan fundamental perusahaan-perusahaan tersebut. Pergerakan positif saham konglomerasi ini memberikan kontribusi signifikan terhadap penguatan indeks secara keseluruhan.
Di sektor perbankan, saham-saham bank besar juga menunjukkan perlawanan yang solid terhadap tekanan pasar. Bank Mandiri (BMRI) tercatat menguat sebesar 75 poin atau sekitar 1,5%, menandakan adanya minat beli yang cukup kuat dari pelaku pasar. Sementara itu, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) juga mengalami kenaikan sebesar 25 poin atau sekitar 0,53%. Kenaikan saham perbankan ini menjadi indikator bahwa sektor keuangan masih dipandang sebagai tulang punggung pasar saham Indonesia. Fundamental perbankan yang relatif stabil, pertumbuhan kredit yang terjaga, serta peran strategis dalam menopang perekonomian nasional membuat saham-saham perbankan tetap menjadi pilihan utama investor.
Selain itu, terdapat indikasi bahwa investor institusi asing mulai kembali melakukan akumulasi saham di pasar Indonesia. Aktivitas beli ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap pasar domestik mulai pulih setelah sebelumnya sempat tertekan oleh berbagai isu global dan domestik. Kembalinya minat investor asing juga tidak lepas dari adanya perubahan dan penyegaran di jajaran pucuk pimpinan regulator pasar modal.
Dalam beberapa waktu terakhir, terjadi pergantian kepemimpinan di Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dinilai membawa harapan baru bagi perbaikan tata kelola pasar. Di tubuh OJK, kepemimpinan kini berada di bawah Ketua Dewan Komisioner Mahendra Siregar, yang diharapkan mampu memperkuat pengawasan serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap sistem keuangan Indonesia. Sementara itu, di Bursa Efek Indonesia, manajemen baru dipimpin oleh Direktur Utama Iman Rachman yang diharapkan dapat meningkatkan transparansi, likuiditas, dan kualitas pasar modal nasional.
Pergantian kepemimpinan tersebut dinilai sebagai langkah positif dalam memperbaiki citra dan tata kelola pasar modal Indonesia di mata investor global. Dengan manajemen baru yang diharapkan lebih responsif terhadap tuntutan transparansi dan tata kelola yang baik, investor asing mulai kembali menaruh kepercayaan dan melakukan akumulasi pada saham-saham unggulan.
Secara keseluruhan, penguatan IHSG pada sesi perdagangan pertama ini menjadi sinyal bahwa pasar masih memiliki optimisme, meskipun dibayangi berbagai tantangan. Kombinasi antara kinerja positif saham konglomerasi, penguatan sektor perbankan, serta kembalinya minat investor asing menjadi faktor utama yang mendorong pergerakan indeks. Ke depan, konsistensi kebijakan dan perbaikan tata kelola pasar akan menjadi kunci dalam menjaga momentum positif serta menarik kembali aliran modal asing ke pasar saham Indonesia.

Posting Komentar