IHSG - Buy or Leave For Now

Daftar Isi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Pergerakan indeks yang sebelumnya sempat menyentuh level psikologis 8.000 kini terkoreksi ke posisi 7.935. Penurunan ini tidak terjadi tanpa sebab. Salah satu faktor utama yang memengaruhi pelemahan IHSG adalah tekanan dari lembaga indeks global MSCI yang meminta peningkatan transparansi terkait kepemilikan saham atau free float pada sejumlah emiten di Indonesia.

IHSG 

MSCI menilai bahwa keterbukaan struktur kepemilikan saham menjadi faktor penting dalam menentukan kelayakan suatu pasar untuk tetap menarik bagi investor global. Free float yang jelas dan transparan memungkinkan investor memahami porsi saham yang benar-benar beredar di publik, sekaligus mencerminkan likuiditas serta tata kelola perusahaan. Kurangnya transparansi dalam hal ini berpotensi menurunkan kepercayaan investor internasional terhadap pasar modal Indonesia.

Sorotan tidak hanya datang dari MSCI. Beberapa perusahaan finansial global juga mulai mempertanyakan transparansi pengelolaan aset dan struktur kepemilikan perusahaan di Indonesia. Mereka menilai bahwa masih terdapat sejumlah perusahaan dengan struktur kepemilikan yang kurang terbuka, sehingga mempersulit analisis fundamental dan meningkatkan risiko investasi. Jika kondisi ini tidak segera dibenahi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dan regulator terkait, terdapat kekhawatiran bahwa status investasi Indonesia di mata lembaga pemeringkat global dapat mengalami penurunan. Penurunan status tersebut tentu berpotensi mengurangi aliran modal asing ke pasar domestik.

Meskipun demikian, di tengah tekanan tersebut, terdapat sinyal positif yang muncul dari aktivitas perdagangan pada Jumat, 6 Februari 2026. Investor asing justru tercatat melakukan aksi beli bersih (net foreign buy) yang cukup signifikan, yakni sebesar IDR 775 miliar. Aksi ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor global terhadap beberapa saham unggulan Indonesia masih terjaga, meskipun terdapat kekhawatiran terkait transparansi pasar secara keseluruhan.

Tercatat lima emiten menjadi incaran utama investor asing pada hari tersebut, yaitu BMRI, BUMI, TLKM, ANTM, dan ASII.

1. BMRI (Bank Mandiri) – Net Foreign Buy IDR 680 miliar

Bank Mandiri menjadi emiten yang paling banyak diborong investor asing. Hal ini mencerminkan kepercayaan kuat terhadap sektor perbankan nasional, khususnya bank milik negara yang memiliki fundamental kokoh. Bank Mandiri dikenal memiliki kinerja laba stabil, pertumbuhan kredit yang konsisten, serta peran strategis dalam pembiayaan sektor riil. Dalam situasi pasar yang penuh ketidakpastian, saham perbankan besar sering menjadi pilihan utama karena dianggap defensif dan likuid.

2. BUMI – Net Foreign Buy IDR 171 miliar

Saham BUMI juga menarik perhatian investor asing, terutama karena prospek sektor energi dan batu bara yang masih relevan dalam jangka menengah. Permintaan energi global yang tetap tinggi serta harga komoditas yang relatif stabil membuat saham sektor ini tetap menarik. Investor tampaknya melihat potensi jangka pendek dari fluktuasi harga komoditas yang dapat memberikan keuntungan.

3. TLKM (Telkom Indonesia) – Net Foreign Buy IDR 158 miliar

Telkom Indonesia merupakan emiten telekomunikasi terbesar di Indonesia dan sering menjadi pilihan investor asing karena stabilitas bisnisnya. Pertumbuhan layanan data digital, transformasi menuju ekosistem digital, serta dominasi pasar membuat TLKM tetap dipandang sebagai saham defensif dengan potensi pertumbuhan jangka panjang.

4. ANTM (Aneka Tambang) – Net Foreign Buy IDR 66 miliar

ANTM mendapatkan perhatian karena berkaitan dengan tren global kendaraan listrik dan kebutuhan nikel sebagai bahan baku baterai. Indonesia yang memiliki cadangan nikel besar memberikan keunggulan strategis bagi ANTM. Investor asing melihat potensi jangka panjang dari hilirisasi industri tambang dan pengembangan ekosistem baterai nasional.

5. ASII (Astra International) – Net Foreign Buy IDR 58 miliar

ASII sebagai konglomerasi besar dengan lini bisnis otomotif, alat berat, dan keuangan tetap menjadi saham favorit. Diversifikasi usaha yang kuat membuat Astra relatif tahan terhadap fluktuasi ekonomi. Selain itu, pemulihan daya beli masyarakat dan pertumbuhan sektor otomotif turut menjadi katalis positif.

Secara keseluruhan, meskipun IHSG mengalami tekanan akibat isu transparansi dan pengawasan global, aksi beli investor asing terhadap saham-saham unggulan menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih memiliki daya tarik. Ke depan, peningkatan transparansi dan tata kelola pasar akan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan investor global serta mempertahankan aliran modal asing ke pasar saham Indonesia.

Posting Komentar