Skip to main content

WORKAHOLIC vs PEKERJA KERAS, ternyata beda loh!

workaholic vs pekerja keras

BloggerBlitar.COM - Workaholic vs Pekerja Keras, memiliki beberapa kesamaan, yakni sama-sama karyawan disuatu perusahaan. Lantas apa yang menyebabkan seseorang menjadi workaholic maupun pekerja keras? Kan sama-sama masih digaji?

Saya sendiri bukan type keduanya loh, hehehe...

Bekerja menurut pandangan pribadi saya adalah memberikan nafkah yang halal kepada istri, anak dan keluarga, sehigga untuk mendapatkannya saya harus bekerja dengan sebaik-baiknya dan memnimalisir pekerjaan yang berulang-ulang, serta berkontribusi membangun perusahaan tempat saya bekerja. Tidak melakukan kecurangan, menunda pekerjaan, ataupun membebankan pekerjaan ke rekan kerja yang lainnya. Dalam batasan kemampuan individual menyelesaikan pekerjaan tersebut, jika memang saya tidak mampu maka pekerjaan tersebut dibuat team untuk menyelesaikannya.

Kemudian, apa sih yang membedakan Workaholic vs Pekerja keras?

Workaholic


Seperti yang saya baca dibeberapa journal online, menyebutkan hal-hal negatif yang terjadi ketika kamu terindikasi menjadi pekerja yang workaholic. Dan saya sendiri enggan menjadi seperti ini, ingat ketika anda jatuh sakit dan mengharuskan anda tidak bekerja tentunya perusahaan akan dengan mudah mencari penggantinya. Dan kamu? Tentu menjadi seorang yang jobless.

Ketika ambisi anda untuk mengejar target tidak tercapai, maka anda akan merasakan kecewa yang begitu berat. Ambisi ini nantinya akan berakibat tidak baik bagi kesehatan anda, meskipun hal ini juga positif tentunya di dunia karir.

Dengan begitu anda akan lupa membagi waktu bersosialisasi dengan keluarga, ataupun tetangga sekitar anda. Padahal, orang disekitar anda juga bisa menjadi penentu karir anda, misalnya istri dan anak anda.

Indikasi lainnya anda akan merasa gelisah jika tidak ada pekerjaan yang akan anda selesaikan hari itu juga. Sebaiknya disini anda segera ke psikiater untuk mengkonsultasikan psikis anda ini. Gejala seperti ini bisa meningkat menjadi depresi, yang mana obat dan terapi yang dibutuhkan tidak sedikit biayanya. Tidak mungkin kan, anda bekerja mencari uang untuk membayar kesehatan anda kemudian harinya?

Menurut Undang-Undang No.13 tahun 2003 pasal 77 sampai pasal 85. Dimana, Pasal 77 ayat 1, UU No.13/2003 :
  1. 7 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu; atau
  2. 8 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu.
Undang-undang tersebut bertujuan mengatur kesehatan kita yang wajar dalam bekerja, potensi bahaya yang timbul ketika melebihi jam kerja, maka pedoman undang-undang tersebutlah yang harus kita jalani.

Pekerja Keras


Berbeda halnya dengan workaholic, prefix yang saya temukan ketika membaca journal online yang membahas pengertian pekerja keras banyak kata-kata dan energi yang positif. Seperti misalnya; menghargai waktu, berinisiatif tinggi, motivasi dan ketekunan.

Salah satunya adalah realistis dalam bekerja. Ingat kita ini superteam, bukan superman, begitu kata-kata bijak yang pernah saya dengarkan. Pekerjaan kita memang banyak untuk diselesaikan, akan tetapi kita punya rekan kerja untuk menyelesaikannya. Dengan begitu, target selesai pekerjaan tersebut akan lebih cepat selesai.

Pekerja keras sadar akan lingkungan sekitarnya adalah yang membuatnya bisa berkarir dengan cemerlang. Siapakah itu? Istri dan anaknya. Dukungan moral yang diberikannya memberikan semangat positif, tentu dalam atmosfir yang enak dalam keluarganya. Meskipun faktor external dalam keluarga ada dan tidak diketahui kedatangannya.

Memanfaatkan waktu libur untuk mereset otak itu sangat penting. Saya yakin, otak manusia juga akan mempunyai limit dalam menampung semua beban kehidupan. Jadi, pekerja yang baik adalah mampu mengatur ritme aktifitas pekerjaannya secara baik. Otak dan emosi yang stabil akan cenderung lebih optimal dalam menyelesaikan tugas-tugas kantor.

Kesimpulan


Saya, anda dan kita bekerja mempunyai tujuan yang berbeda. Tapi goal yang diinginkan adalah sama, yakni tercukupinya lahir dan batin kita. Pekerja yang baik adalah yang ingat akan batas kemampuan tubuh kita, dan orang-orang disekitar kita.

Sakit karena pekerjaan sudah banyak data yang ditampilkan oleh pemerintah, maka dari itu tentunya kita bekerja tahu akan konsekuensinya. Alangkah baiknya, bekerjalah menjadi pekerja keras yang masih dalam batasan-batasan kewajaran kita.

Terimakasih sudah membaca artikel ini, silahkan untuk dishare di media sosial milik anda, jangan lupa untuk selalu update di blog ini.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar