Semoga lekas sembuh Pak Wiranto, korban penusukan sajam di Pandeglang

Daftar Isi

Bloggerblitar.com - Menteri koordinator politik hukum dan keamanan, Wiranto diserang oleh orang tidak dikenal menggunakan senjata tajam. Peristiwa itu terjadi ketika beliau baru saja pulang dari kunjungan ke Universitas Mathlaul Anwar, Pandeglang. Beliau baru turun dari mobil di Alun-alun Menes, sekitar pukul 11.50 WIB (10/10/2019). Ketika Wiranto baru saja turun dari kendaraan, tiba-tiba pelaku merangsek dan melakukan penyerangan dengan senjata tajam. Wiranto diselamatkan petugas polisi dan ajudannya. Tapi dalam insiden ini, Wiranto, Kapolsek Meners Kompol Dariyanto, dan staf Wiranto, Fuad mengalami luka. Mereka dirawat di RSUD Pandeglang. Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri menyebut kedua pelaku sudah berhasil diidentifikasi dan ditahan di Polsek Menes. (Dikutip dari http://kumparan.com).

Penyerangan ini menandai semacam perubahan objek penyerangan dari kelompok teroris di Indonesia. Penyerangan terhadap pejabat tinggi pemerintah oleh pihak-pihak yang dianggap radikal tercatat belum pernah terjadi. Sejauh ini, objek serangan dari kelompok radikal biasanya menyasar pihak yang dianggap kafir atau thougut seperti orang asing (bom Bali, bom kedubes Australia, bom hotel JW Marriott), tempat ibadah ( bom Surabaya) atau aparat kepolisian (bom Surabaya, penembakan thamrin, penembakan solo ). Meskipun belum dapat disimpulkan, akan tetapi sudah jelas ada perubahan pola sasaran dan cara beroperasi dari kelompok kelompok radikal ini. 

Penggunaan senjata tajam dalam serangan terhadap Wiranto juga merupakan perubahan pola operasi. Memang penggunaan senjata tajam bukan yang pertama kali digunakan dalam serangan. Tercatat penyerangan ke Mapolres Banyumas juga pernah dilakukan oleh pelaku dengan senjata tajam. Akan tetapi penyerangan dengan tujuan melukai pejabat tinggi memang tercatat baru terjadi kali ini. Penggunaan senjata tajam yang kecil, pelaku diduga menggunakan semacam kunai, pisau kecil yang bisa dilempar diindikasikan agar mudah disembunyikan pelaku agar tidak terdeteksi aparat pengawalan.

Mengenai motif dan tujuan pelaku melakukan penyerangan masih terus digali pihak terkait. Akan tetapi penyerangan ini menjadi PR tersendiri bagi pihak keamanan terutama yang bergerak dibidang pengawalan pejabat. Lazim halnya para pejabat tinggi di Indonesia ketika melakukan kunjungan untuk berinteraksi dengan masyarakat. Kedekatan dengan masyarakat yang tanpa sekat dan tidak bisa diawasi secara mendetail sudah menjadi momok menakutkan bagi para pengawal. Masyarakat yang ingin berinteraksi dengan pejabat yang sedang melakukan kunjungan bisa berada sangat dekat bahkan sampai bersalaman dan menyentuh sang pejabat. Dalam skenario terburuk maka penyerangan terhadap Wiranto di Pandeglang hari ini bisa terjadi meskipun sudah ada pengawalan dari pihak terkait. Pun jumlah korban serangan masih bisa dibilang minimal karena pelaku yang menggunakan senjata tajam. Tak terbayangkan jika pelaku menggunakan jenis senjata lain dengan jarak sedekat itu dengan sasaran.

Disisi lain perubahan pola pengawalan pejabat tinggi ketika melakukan kunjungan ke daerah dengan tidak bersalaman serta berinteraksi dengan masyarakat maka akan menimbulkan jarak yang semakin melebar antara pejabat dengan rakyat. Ingat, Indonesia adalah negara yang sangat reaktif dalam merespon suatu isu. Seharusnya pola dan cara pengamanan pejabat bisa saling menguntungkan. Disatu sisi keamanan dan kenyamanan sang pejabat bisa terjamin, disisi lain masyarakat bisa tetap berinteraksi langsung.

Satu lagi, setiap ada penyerangan atau aksi terorisme pasti ada reaksi. Baik dari masyarakat, aparat keamanan apalagi netijen. Reaksi dari yang mengecam atau bahkan mendukung, serta reaksi berbagai ahli teori konspirasi handal dan mumpuni yang mengemukakan bermacam teorinya. Selama tidak melanggar hukum, siapa saja bebas berkomentar. Kita lihat saja kearah mana aksi penyerangan ini bermuara.

Posting Komentar