Skip to main content

Minyak goreng curah vs minyak goreng kemasan. Mana suaranya gorengan.

Minyak goreng curah dilarang dijual mulai 2020

Minyak goreng curah akhir-akhir ini menjadi perbincangan yang cukup ramai dikalangan mamak-mamak di pasar sembari belanja. Ketika diamati, beberapa mamak-mamak yang mengeluh ialah mamak-mamak penjual gorengan cepat saji. Dan tukang nasi goreng yang ada beberapa memanfaatkan minyak curah tersebut. Masing-masing customer mempunyai alasannya tersendiri untuk memilih yang mana pastinya. Akan tetapi jika dilirik dari segi kesehatan seharusnya masyarakat lebih memilih minyak goreng kemasan, salah satunya produk tentu lebih steril dan higienis.

Menteri Perdagangan


Menurut Enggartiasto Lukita dalam interviewnya menegaskan memang tidak akan menarik dari pasaran minyak goreng curah dalam waktu dekat ini. Namun mengingatkan kepada masyarakat umum bahwasannya produk yang bagus itu higienis, dan terjamin kandungan gizinya. Masih menurutny tidak aka ditarik, namu nanti pada 1 Januari 2020 minyak goreng kemasan ini akan tersedia sampai kepelosok pedesaan. Harapannya masyarakat Indonesia sudah bisa mengkonsumsi minyak goreng yang menyehatkan.

Enggar juga menjelaskan, bahwasannya minyak goreng itu hasil turunan dari CPO (Crude Palm Oil) atau minyak kelapa sawit. Dimana minyak kelapa sawit juga mengandung banyak sekali gizi dan vitamin didalammnya. Vitamin A dan E, memiliki komposisi asam lemak yang seimbang,asam lemak tak jenuh.

Vitamin dalam Minyak Goreng CPO


Vitamin A nya sendiri didalam CPO terkandung 5000 - 6700 ug per 100 gram, yakni lebih tinggi 12 kali dari kandungan vitamin A didalam wortel. Sedangkan vitamin E nya terkandung 1172 ppm. Kedua vitamin inilah yang telah dibuktikan sebagai gizi pencegahan kanker dan tumor. Maka dari itu kita patut bersyukur tanaman Kelapa Sawit sangat subur tumbuh di Indonesia antara lain di pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Kita juga sebagai pengexpor minyak nabati kelapa sawit terbesar di Dunia setelah Malaysia. Dengan banyaknya hal positif tersebut harapannya masyarakat sudah peduli akan kehigienisan produk yang akan dikonsumsi, jangan salah kaprah nantinya minyak goreng tidak sehat padahal yang dikonsumsinya adalah produk yang memang diproduksi tidak sesuai standar nasional Indonesia (SNI). Harusnya segera bilang ke mamak kau untuk beli minyak goreng kemasan saat ini juga.

Proses Pasokan Minyak Curah


Menurut Sahat Sinaga selaku Direktur GIMNI, alur pendistribusian minyak curah ini memang berawal dari pabrik untuk agen-agen yang baru kemudian ke pedagang eceran. Bahkan proses pengemasannya pun terbilang sangat sederhana. Minyak dimasukan ke plastik-plastik hanya menggunakan gayung dari drum-drum kecil. Yang dipertanyakan adalah dari mana masyarakat penjual ini mendapatkan stock drum-drum tersebut, karena dikhawatirkan ada agen yang nakal mencampur minyak tersebut dengan minyak bekas yang sudah diextrasi ulang secara tradisional sehingga tidak akan terlihat perbedaannya.

Sahat pun membeberkan sekarang ini di pasar komposisi minyak curah dan minyak kemasan lebih banyak minyak curah sekitar 51% menguasai pasar tradisional. Jika kondisinya seperti ini sangat disayangkan padahal minyak goreng yang berasal dari kelapa sawit ini kaya akan gizi dan vitamin akan tetapi dikarenakan harga kemasan yang mahal sehingga masyarakat menengah kebawah tidak sanggup untuk membelinya. Semoga nanti 1 Januari 2020 pemerintah sudah menetapkan harga eceran terendah (HET) minyak goreng kemasan merata diseluruh Indonesia.

Jadi gaes, kamu sudah pilih geng yang mana nih? Kalau penulis sih Minyak Goreng Kemasan dong, mamak aku pun sudah pakai ini dari lama gaes.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar